Harmonyfm – Serang, Di tengah gempuran tren makanan kekinian, semangat melestarikan warisan leluhur justru menguat di Kota Serang. Puluhan jenis kuliner khas Banten yang mulai langka kembali naik panggung dalam kegiatan buka puasa bersama yang diinisiasi oleh Relawan Fesbuk Banten News (FBn) dan Komunitas Bahasa Jawa Serang (BJS), Sabtu (14/03/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Rumah Singgah Relawan Duafa FBn, Kecamatan Taktakan ini bukan sekadar ajang silaturahmi biasa. Momen ini menjadi etalase kekayaan gastronomi lokal sekaligus peringatan Milad ke-16 bagi kedua komunitas tersebut.
“Etalase” Kudapan Langka
Para relawan dan tamu undangan dimanjakan dengan beragam kudapan tradisional yang kini mulai sulit ditemui di pasar modern. Beberapa menu ikonik yang disajikan antara lain Ketan gerong, ratuban, jejorong, cecuer, pasung, kontol sapi, lupis, talam, apem putih, bacang karoket, hingga buras gorengan.
Tak hanya jajanan panitia juga menghadirkan makanan khas Banten seperti Angeun lada, rabeg, gerem asem, dan olahan kulit tangkil yang menggugah selera.
Upaya Mengenalkan Identitas Budaya
Inisiator kegiatan, Lulu Jamaludin, menegaskan bahwa penyajian menu-menu ini adalah upaya konkret memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda agar tidak tergerus zaman.
“Setiap makanan khas daerah punya cerita, tradisi, dan bahan lokal. Kita harus terus mempromosikan kuliner Banten agar tidak hilang di tengah gempuran makanan modern,” ujar Lulu.
Lulu menambahkan, pelestarian kuliner tradisional juga berdampak langsung pada sektor ekonomi. Dengan menjaga eksistensi makanan daerah, mata rantai ekonomi mulai dari petani bahan baku hingga pelaku UMKM kuliner lokal akan tetap berputar.
Pelestarian Menyeluruh: Bahasa dan Rasa
Senada dengan Lulu, pegiat Bahasa Jawa Serang, Manar Mas, menyampaikan bahwa pelestarian budaya harus dilakukan secara menyeluruh (holistik).
“Kami ingin generasi muda tetap mengenal budaya daerahnya sendiri. Bahasa Jawa Serang kami lestarikan, begitu juga kuliner khas Banten yang menjadi kekayaan budaya kita,” ungkap Manar.
Kedua komunitas yang telah berkiprah selama 16 tahun ini berharap kegiatan serupa dapat terus digalakkan. Targetnya jelas: agar masyarakat Banten khususnya Generasi Z dan Milenial tetap bangga dan mencintai produk lokal di tengah arus modernisasi yang kian kencang.(ssk)







