Harmonyfm – Serang, Halaman Masjid Agung Banten menjadi saksi bisu peringatan megah 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani, Selasa (28/04/26) malam.
Acara yang dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, ini menegaskan posisi Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai tokoh sentral peradaban Islam yang diakui oleh dua negara: Indonesia dan Afrika Selatan.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa Syekh Yusuf Al Makassari adalah sosok yang unik dan “komplit”. Beliau bukan hanya seorang intelektual dengan 50 karya tasawuf, tetapi juga pejuang fisik yang gigih melawan kolonialisme.
“Beliau adalah satu-satunya pahlawan nasional kita yang juga diakui sebagai pahlawan nasional di Afrika Selatan pada tahun 2005. Beliau membawa fajar Islam ke selatan Afrika dan menjadi simbol perlawanan terhadap Apartheid yang menginspirasi tokoh seperti Nelson Mandela,” ujar Fadli Zon.
Fadli Zon juga mengungkapkan ambisi pemerintah untuk memperkuat literasi dan jejak sejarah Syekh Yusuf melalui dua langkah strategis yaitu rumah budaya di Afrika Selatan dengan membangun Museum Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani di Cape Town yang akan berfungsi sebagai Rumah Budaya Indonesia. Rencana ini telah mendapat lampu hijau dari Presiden Prabowo Subianto
Kemudian revitalisasi Banten Lama dengan mendorong peningkatan status kawasan Banten Lama menjadi Cagar Budaya Nasional serta rencana pemugaran Keraton Surosoan, Keraton Kaibon, dan Benteng Speelwijk sesuai kajian ahli.
“Kita diperintahkan konstitusi untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia. Peringatan 400 tahun ini pun telah resmi masuk dalam agenda UNESCO,” tambah Fadli.
Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Sekretaris Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan di Kementerian Kebudayaan RI Mardisontori melaporkan, bahwa peringatan ini melibatkan 500 santri dalam kegiatan tadarus dan penulisan mushaf Al-Qur’an.
Selain itu, masyarakat dapat mengunjungi Pameran Manuskrip dan Peninggalan Syekh Yusuf Al”Makassari di Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama yang berlangsung hingga 03 Mei 2026.
“Pameran ini menampilkan jejak literasi sang ulama yang pernah melanglang buana mencari ilmu hingga ke Yaman, Mekkah, Madinah, dan Damaskus,” ungkapnya.
Mewakili Gubernur Banten, Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik Zaenal Mutaqin, menyebut Syekh Yusuf Al’Makassari sebagai “Permata Goa yang bertahta di Singgasana Banten”.
Meskipun berasal dari Gowa, Sulawesi Selatan, gelar “Al-Bantani” melekat kuat karena peran strategis beliau sebagai Mufti Kesultanan sekaligus menantu Sultan Ageng Tirtayasa.
Zaenal berharap kehadiran Menteri Kebudayaan dapat membuka kembali tabir kejayaan Banten agar kembali diakui secara ekonomi dan politik di mata dunia seperti pada abad ke-16.
Acara malam itu ditutup dengan penampilan Debu yang memukau. Dan sebelumnya juga ada pembacaan puisi oleh Peri Sandi dan kilas balik sejarah melalui pemikiran Prof. Oman Fathurrahman, mengingatkan hadirin bahwa Syekh Yusuf Al-Makassari Al-Bantani adalah bukti nyata bahwa moderasi beragama dan keberanian membela kemanusiaan melampaui batas geografis dan zaman.(ssk)







