Harmonyfm – Serang, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Banten membawa kabar baik terkait ketahanan pangan di Tanah Jawara. Berdasarkan koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Provinsi Banten diproyeksikan mengalami surplus beras sebanyak 58.000 ton pada tahun 2026.
Kepala KPw BI Banten, Ameriza M. Moesa, mengungkapkan bahwa data sekunder menunjukkan puncak panen raya akan terjadi pada bulan Februari dan Maret. Momentum ini dinilai sangat tepat karena bertepatan dengan periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri.
“Mudah-mudahan panennya bagus di Februari-Maret. Kami harap timing-nya pas saat mau Lebaran, sehingga memberikan sinyal positif untuk meredam kenaikan harga di tengah tingginya permintaan,” ujar Ameriza dalam HLM TPID Se-Banten pada Rabu (11/02/26).
Meski swasembada beras sudah di depan mata, Ameriza mengingatkan adanya tantangan besar pada komoditas hortikultura, khususnya cabai dan bawang merah.
Berbeda dengan beras, kebutuhan hortikultura di Banten saat ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Jawa Barat dan Lampung.
“Produk hortikultura kita masih defisit. Untuk itu, seluruh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) perlu fokus menjaga ketersediaan pasokan ini agar harganya tetap terjaga menjelang Lebaran,” jelasnya.
Sebagai solusi konkret, BI Banten mendorong penguatan peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pangan. Ameriza menyarankan agar BUMD di kabupaten/kota aktif menjalin Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk mengamankan stok.
“Kami sangat mendorong agar BUMD Pangan bekerja sama dengan daerah produsen hortikultura. Hal ini penting agar kita memiliki kepastian pasokan, sehingga fluktuasi harga di pasar dapat diminimalisir,” tambahnya.
Dengan proyeksi surplus beras dan langkah antisipasi pada komoditas cabai-bawang, diharapkan inflasi pangan di Provinsi Banten tetap terkendali selama masa perayaan Idul Fitri tahun ini.
Menghadapi potensi lonjakan inflasi musiman, Ameriza juga memaparkan lima strategi utama yang harus dijalankan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Banten, yang pertama Gerakan Pangan Murah (GPM), mengintensifkan operasi pasar dan pasar murah lebih awal.
“Ibu-ibu biasanya belanja cabai dan bumbu itu sebelum puasa, kalau sudah dekat Lebaran tinggal belanja kue. Jadi GPM harus dimulai dari sekarang,” jelasnya.
Yang kedua mengoptimalkan inspeksi lapangan untuk mencegah praktik penimbunan oleh oknum tidak bertanggung jawab. “Di sini ada tim SABER, (Sapu Bersih). Ini juga kami menghimbau agar kegiatan inspeksi lapangan lebih diintensifkan untuk memastikan tidak ada penimbunan-penimbunan yang terjadi di pasar-pasar,” Tambahnya.
Ketiga Memastikan arus logistik pangan, terutama di jalur penyeberangan Merak, tidak terhambat selama arus mudik. Koordinasi dengan pihak kepolisian terkait jadwal angkutan barang sangat krusial.
“Terkait dengan kelancaran distribusi, kami juga men-support, mendukung kegiatan TPID untuk mendorong kegiatan distribusi semakin lancar. Termasuk kelancaran distribusi pangan lintas pulau di penyeberangan Merak itu mungkin dipastikan jangan sampai ada bahan pangan yang terhambat dari Sumatera masuk ke Jawa,” ujarnya.
Keempat Ameriza juga meminta Kepala Daerah aktif memberikan pernyataan menenangkan di media bahwa stok aman guna menjaga psikologis pasar dan mencegah panic buying. “Nah, ini untuk meredam psikologis itu, kami menghimbau kepala daerah bisa sering membuat statement positif di media-media,” tegasnya.
Ameriza juga mengajak masyarakat untuk konsumsi secukupnya selama bulan Ramadan melalui kampanye belanja bijak. “Jangan sampai saat puasa konsumsi malah melonjak tidak terkendali. Kita ingin Lebaran tahun ini harga-harga lebih stabil dan inflasi tetap terjaga,” pungkasnya.(ssk)







