Harmonyfm – Serang, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Banten, Ameriza M. Moesa, menyoroti peran strategis sektor pariwisata sebagai motor penggerak investasi dan solusi untuk peningkatan penyerapan tenaga kerja di Banten, meskipun kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) saat ini masih relatif kecil, yakni sekitar 2,35 persen.
Menurut Ameriza, tantangan besar saat ini adalah bagaimana menjadikan pariwisata sebagai sektor yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan.
Ameriza menjelaskan bahwa dalam suatu perekonomian, pariwisata memiliki logika unik sebagai pembuka jalur investasi. Wisatawan yang datang dan merasa senang akan mencari tahu peluang bisnis di lokasi tersebut.
Ketertarikan awal akan berlanjut ke aktivitas perdagangan. Setelah puas dengan perdagangan, langkah berikutnya adalah investasi, mulai dari pembelian properti, pembangunan vila, hingga hotel.
“Jadi yang pembuka kunci investasi itu sebenarnya pariwisata dulu. Karena orang berpariwisata,” ujarnya dalam acara Pengembangan Kemitraan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kota Serang, Rabu (19/11/25).
Ia mencontohkan Bali dan Lombok di mana banyak properti dimiliki oleh orang asing, menunjukkan bagaimana pariwisata sukses menarik investasi.
Jika investasi naik, lapangan kerja otomatis tercipta. Selain itu, dampak pariwisata menciptakan efek berantai (trickle down effect) yang sangat luas ke berbagai sektor lain seperti pertanian, perkebunan, perikanan, industri, perdagangan dan jasa.
“Efek trickle down effect itu sangat luas kalau pariwisata. Beda dengan sektor lain ya karena dia bisa ke mana-mana,” tambahnya.
Melihat tren peningkatan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus), Ameriza menekankan pentingnya mencari sumber ekonomi yang inklusif untuk mengatasi permasalahan, salah satunya pengangguran.
“Kita perlu mencari sumber ekonomi yang inklusif. Salah satu jawabannya adalah sektor pariwisata,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi komoditas khas Banten, seperti Kopi Lepeh Lalai yang berasal dari Kelelawar. Kopi ini memiliki proses fermentasi unik dari Kelelawar, dan disebut sebagai satu-satunya di dunia.
Potensi ini, menurut Ameriza, masih belum banyak diketahui dan perlu dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik wisata.
Untuk pengembangan lebih lanjut, KPw BI Banten berharap Pemerintah Daerah dapat lebih memfokuskan pengembangan pariwisata di wilayah selatan, yaitu Pandeglang dan Lebak, yang dinilai memiliki potensi besar.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Banten, Eli Susiyanti, mengungkapkan bahwa tren kunjungan wisata memang terus meningkat. Namun, peningkatan ini harus dibarengi dengan penataan dari segala aspek, khususnya kesiapan masyarakat Banten untuk menjadi masyarakat yang sadar wisata.
“eningkatan kunjungan wisata ini tidak serta-merta ujug-ujug, kita harus mulai menata dari segala aspek termasuk bagaimana kesiapan kita masyarakat di Banten untuk menjadi masyarakat yang sadar wisata,” ungkapnya.
“Kesiapan masyarakat dalam sadar wisata ini sangat menentukan frekuensi jumlah kunjungan ke lokasi wisata,” imbuhnya, menekankan bahwa peran semua pihak, termasuk media, akan menentukan “biru, kuning, putih, kelabunya dunia pariwisata di Banten.”
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Pandeglang sekaligus Managing Director KEK Tanjung Lesung, Widi Widiasmanto, juga menyuarakan optimisme. Ia menyoroti potensi besar Banten yang ditopang oleh garis pantai sepanjang 948 ribu kilometer dan Akses Global di Selat Sunda (dilalui lebih dari 3.000 kapal logistik dan cruise per bulan).
Namun, ia menyayangkan belum adanya pelabuhan atau Marina untuk kapal pesiar/yacht, padahal Banten berada di jalur pelayaran internasional. Tantangan utamanya saat ini adalah tingkat hunian hotel (city occupancy) yang masih 50 persen dan lama menginap (length of stay) yang hanya 1,2 hari, jauh di bawah Bali.
Widi berharap agar semua stakeholder memiliki komitmen yang sama untuk memaksimalkan pengelolaan industri pariwisata dan segera menuntaskan pembangunan infrastruktur yang mendukung konektivitas antara Utara dan Selatan Banten.
“Jadi menurut kami tinggal bagaimana semua stakeholder itu memiliki komitmen yang sama, sesuai user yang sama, dari industri atau tourism industri ini benar-benar dikelola dimaksimalkan semaksimal mungkin. Karena yakin Ujung Kulon hanya ada di Banten gitu,” ucapnya.
Sedangkan Sekretaris Komisi III DPRD Banten, Mansur, menekankan bahwa potensi pariwisata Banten sangat luar biasa dan tinggal menunggu kesungguhan semua pihak, menunjuk Dinas Pariwisata sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.
Mansur juga menyoroti perbedaan dampak antara sektor industri dan pariwisata..”Kalau industri yang maju, mungkin hanya beberapa kelompok saja. Buktinya di Banten ini, industri banyak, tapi pengangguran di Banten masih tetap tinggi,” katanya.
Sebaliknya, ia meyakini kemajuan pariwisata akan memberikan dampak luas pada ekonomi kerakyatan, termasuk pengembangan homestay dan usaha di sekitar lokasi wisata.
“Masyarakat di sekitarnya akan banyak merasakan nilai positif,” tutupnya, mengingatkan pentingnya meminimalisir dampak negatif pariwisata.(ssk)







